BALI PUSARAN ONLINE-PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan pemerintah daerah mulai mempercepat rencana kehadiran trem listrik di Bali untuk menjawab kemacetan yang kian menekan kawasan Bali Selatan. PT KAI, Pemerintah Provinsi Bali, dan Pemerintah Kabupaten Badung telah menandatangani kesepakatan bersama tentang rencana pengembangan perkeretaapian berupa trem di Bali pada Senin (1/9/2026).
Rencana tersebut diarahkan pada koridor Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga Canggu yang selama ini menjadi salah satu titik kepadatan mobilitas Bali. KAI memilih konsep trem listrik karena dinilai sesuai dengan karakter wilayah dan kebutuhan transportasi Bali. Percepatan itu menjadi relevan karena mobilitas di Bali masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi. Berdasarkan data yang dipaparkan KAI, sekitar 95% perjalanan di Bali masih menggunakan kendaraan pribadi, sedangkan kurang dari 2% masyarakat menggunakan angkutan umum, berjalan kaki, atau bersepeda. Tekanan terhadap mobilitas juga datang dari tingginya jumlah kendaraan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah sepeda motor di Bali pada 2025 mencapai 4,75 juta unit.
Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan proyeksi jumlah penduduk Bali pada 2026 yang belum mencapai 4,5 juta jiwa. Kondisi itu berlangsung ketika aktivitas pariwisata terus bergerak. Pada Juli 2026, kunjungan wisatawan mancanegara langsung ke Bali mencapai 697.809 kunjungan, naik 15,34% dibandingkan Juni 2026 yang sebanyak 605.013 kunjungan. Baca Juga Trem Kuta-Canggu Ditarget Groundbreaking Maret 2027 Bukan MRT/LRT, Bali Pilih Trem untuk Pecah Kemacetan Bandara-Canggu KAI Bakal Bangun Trem Lintas Kuta hingga Canggu Jumlah wisatawan domestik yang menuju Bali terus meningkat setiap tahunnya dan bergerak fluktuatif. Meski demikian, jumlahnya belum pulih dari 2019 atau sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai rekor 10,55 juta orang. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, perkembangan ekonomi, pariwisata, dan mobilitas masyarakat menjadi dasar dalam melihat kebutuhan transportasi Bali ke depan
. “Perkembangan ekonomi dan aktivitas pariwisata Bali perlu diikuti dengan perencanaan transportasi yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas ke depan,” ujarnya. Desain Jalur Trem KAI merancang trem dengan panjang trase 13,1 kilometer (km) yang terbagi dalam koridor Bandara-Legian dan Legian-Seminyak-Canggu. Sistemnya menggunakan jalur tunggal dengan jalur ganda pada terminus dan titik persilangan. Di kawasan bandara, jalur trem dirancang melayang, sedangkan sebagian besar trase berada di permukaan tanah. Trem menggunakan sistem berbasis baterai dengan pengisian daya di depo, stasiun terminus, dan titik persilangan untuk menjaga kualitas visual kawasan pesisir. Waktu tempuh Legian-Bandara diperkirakan 23 menit, sedangkan Canggu-Bandara sekitar 40 menit. Trem ditargetkan mampu mengangkut 15.000 hingga 20.000 penumpang, dengan jeda keberangkatan sekitar 10 menit. Dalam kapasitas maksimal, daya angkut diproyeksikan mencapai 60.000 penumpang per hari atau sekitar 40% dari kepadatan mobilitas pada koridor Bandara-Canggu. KAI menargetkan groundbreaking dimulai pada Maret 2027.
Trase pertama ditargetkan beroperasi pada 2028 dan seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan selesai pada 2029. VP Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, rencana tersebut masih berada dalam tahap awal. Menurut dia, berbagai aspek pembangunan masih membutuhkan kajian dan koordinasi dengan pemerintah, terutama Kementerian Perhubungan sebagai regulator.
“Kan masih MoU, jadi itu dulu perkembangannya, nanti kami update,” ujarnya. Kemacetan dan Pilihan Moda Percepatan pembangunan trem juga berjalan beriringan dengan opsi lain untuk mengatasi kepadatan Bali Selatan. Pemerintah merencanakan pengembangan water taxi senilai Rp1,2 triliun yang ditugaskan kepada PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Water taxi tersebut diproyeksikan memangkas waktu perjalanan dari bandara menuju Canggu yang saat ini berkisar 1 hingga 2 jam menjadi maksimal 30 menit.
Kehadiran moda tersebut diharapkan dapat hadir pada akhir 2026 dan sekaligus meningkatkan konektivitas menuju kawasan wisata. Dengan demikian, penanganan kemacetan Bali Selatan mulai diarahkan pada lebih dari satu moda. Trem akan membawa penumpang melalui jalur darat, sedangkan water taxi menjadi alternatif perjalanan melalui jalur perairan. Namun, tambahan moda transportasi juga membawa kebutuhan baru berupa integrasi. Keberhasilan trem akan sangat bergantung pada kemampuan sistem tersebut terhubung dengan moda yang telah beroperasi dan perubahan perilaku masyarakat yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi. Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno menilai trem memang dapat menjadi pilihan untuk mengurai kemacetan Bali.
Persoalannya, jika trem nantinya yang dipilih autonomous rapid transit (ART) yang berjalan tanpa rel, terletak pada bagaimana kendaraan lain, khususnya sepeda motor, berinteraksi dengan trem yang sebagian jalurnya berada di permukaan jalan. “Ini memang pilihan yang efektif untuk pecah kemacetan di Bali, tapi tantangan juga bagaimana pemerintah nanti sosialisasinya, ini ada kereta, jangan sampai jadi masalah,” katanya.
Menurut Djoko, pengalaman pengembangan moda serupa di sejumlah daerah menunjukkan kebutuhan aturan yang jelas ketika trem berbagi ruang dengan kendaraan lain. Dia mencontohkan Solo yang telah memiliki aturan ketika trem beroperasi dan berpapasan dengan bus. Persoalan regulasi juga menjadi perhatian karena pilihan teknologi dan sistem trem memiliki konsekuensi berbeda. Djoko menilai pemerintah perlu memperkuat regulasi, termasuk memperjelas ranah pengaturan apabila sistem yang digunakan memiliki karakter seperti autonomous rail transit atau ART.
Di sisi lain, Djoko melihat pemerintah sebenarnya memiliki pilihan yang lebih sederhana untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum. Trans Metro Dewata dapat menjadi bagian dari solusi apabila frekuensi layanannya ditingkatkan. “Kalau dibandingkan dengan bus, ya kenapa tidak manfaatkan bus yang ada Trans Metro Dewata dengan frekuensi yang lebih sering misal 5 menit sekali. Lebih murah dan lebih cepat,” ujarnya.***






